Senin, 24 Oktober 2011

Dear Diary #2

Aku benar-benar sudah kehilangan hati yang ku genggam pasti,,,
Tidak ada unsur dalam makna buruk hati yang kumaksudkan,,
Dan mungkin ada yang bertanya-tanya, lalu apakah maksudnya ???

Inilah dia,,
Aku selalu bercerita pada bulan tentangnya,,
yang namanya selalu menggema akhir-akhir ini, ya, Pujangga Jingga,
aku mengaguminya dengan indahnya, dengan aku yang benar-benar baru,,
hampir tiap malam kukirimkan untaian syair untuk mengisi malamnya,
dan pula ku kirimkan doa untuk menjaga tiap mimpinya,,
hanya mengirimnya, tak berharap dia mengerti untuk menerimanya,,
tapi bulan selalu menguatkan penantianku, bahwa ia pasti tahu,,

Aku tersenyum dalam diamku, ketika melihatnya juga tersenyum karena hawanya yang tak ku tahu,,
Aku bersedih ketika kurasakan ada airmata menggenang untuk hawanya yang entah siapa,,
Aku memang bertanya-tanya siapa bidadari itu, yang tiap malam ia ikrarkan dalam rima,
ahhh,,,aku sempat cemburu,,
namun aku tahu, ia jauh disana, tak tergapai,,
aku tetap merindunya dalam hening,,

Dan hari itu, kudapati ia tahu apa yang kurasa,,
namun tak berakhir bahagia,
ia berkata bahwa hatinya telah termiliki oleh hawa,, bidadari indah mempesona,,
aku masih tersenyum, dalam duka,,,
namun bahagia untuknya dan bidadarinya,,

Tanpa merasa benci padanya, aku masih saja mengagumi, masih mengirimkannya untaian rima, tapi kali ini benar-benar tak ingin ia tahu, karna ia telah bahagia bersama bidadarinya,,
aku hanya merindukannya bersama bulan,,

Namun lagi-lagi hari lainnya, tiba-tiba ia mengajakku untuk menatap bulan bersamanya,,
entah apa itu nyata atau tidak,, aku tak berani menanggapinya secara langsung, takut kalau aku yang berlebihan, dan akhirnya aku harus merelakannya lagi,,
kali ini, ku anggaplah itu hanya perkataan seorang teman pada temannya,,
tanpa mungkin ia tahu, betapa sejak itu aku tak pernah berhenti menatap lekat bulan, memintanya memindai bayangan dirimu,, seolah kau ada bersamaku,, seperti janjimu,, bersama menatap bulan,,
aaahhhhhhhh,,,, aku begitu lugu,,
jelas bukan itu hanya gurauanmu pujangga biru ???

Dan kali ini,, kembali kudapati undanganmu,,
mengucapkan salam kepada cinta,, apakah aku cintamu itu ???
aku lagi-lagi tergugu,,
kau benar-benar membuatku terpenjara dalam labirin bernama "mengagumimu"

Sama seperti awal dulu,, aku tak berani menganggap itu hal yang berarti, karena kamu telah dengan tegas mengatakan bahwa sudah ada bidadari disampingmu yang memang tak kau tahu,, tapi aku mengerti,, bukan bukan aku yang kau maksudkan,,

Aku bahagia karena kamu masih mengingatku dan mengirimkan salam itu,
inilah jawabanku,, "Wa'alaikum salam calon imam syurga,"

#aku ingin menuliskan "ku" dibelakang kata syurga,, tapi tak berani,, ^0^

Kapankah Lagi Engkau Meminangku *Desperate banget ya dibacanya,, fufufu #part 3

Seminggu lebih setelah keputusan Anil dan pemberitahuan persetujuan pada Raudah itu, Raudah belum juga menghubungi tentang perkembangan baru rencana ta'aruf itu. Sesekali Anil coba menanyakan hal itu pada Raudah, kata Raudah persetujuan Anil sudah disampaikannya pada ka Syamsul, tapi sepertinya ka Syamsul belum bisa pergi mengajar ke pesantren tempat Firdaus juga mengajar dan memberitahukan perihal keputusan itu, di karenakan ka Yuni, istri ka Syamsul sedang hamil besar, dan bisa melahirkan kapan saja.
Tampak luar Anil memang sepertinya terlihat biasa saja, namun sebenarnya hatinya selalu bertanya-tanya bagaimanakah kelanjutan takdirnya dnegan orang yang sangat ia kagumi dan cintai itu. Dalam setiap sujud-sujud malamnya, tak lupa Anil memohonkan di berikan yang terbaik untuknya dan untuk keluarganya.

Tepat setelah 3 minggu datangnya kabar itu, Anil sedang di lokal kuliahnya hari itu, dan sedang mendengarkan dosen Extensive Reading nya menjelaskan Skimming dan Scanning tingkat lanjut, tiba-tiba handphone Anil bergetar. Anil melirik si penelpon "Raudah", Anil yakin pasti berita tentang ta'aruf itu. Tanpa ragu Anil kemudian minta izin pada ibu dosennya untuk keluar dan mengangkat panggilan itu sebentar.
Sesudah berada diluar jangkauan pendengaran dosen maupun teman sekelasnya, Anil mengangkat panggilan itu. "Assalamualaikum",
"Wa'alaikum salam" Sahut Raudah,
"Apa Dah?" Tanya Anil basa-basi, "Soal ta'aruf kemaren Nil," Jawab Raudah, dan Anil tiba-tiba merasa bahagia.
"Iya," Jawab Anil. Kemudian Anil mendengarkan dengan sungguh-sungguh kata demi kata yang di ucapkan Raudah. Lima menit berselang, Anil menyunggingkan senyum dan kemudian bulir airmata turun di pipinya.
"Wa'alaikum salam", ucap Anil mengakhiri pembicaraan dengan Raudah.
Anil masih ingat kalau dia sedang ada kuliah, bergegas kemudian ia masuk kembali ke kelasnya. Sisa pelajaran hari itu hanya samar-samar yang masuk ke telinganya, sisanya sesekali Anil merunduk untuk menyeka airmata yang seperti akan keluar di pinggiran matanya.***

To Be Countinued

Minggu, 23 Oktober 2011

Dear Diary #1

Aku adalah diriku, dan ku kenal setiap detailnya,,
Tapi satu bagian ini adalah hal yang paling tidak bisa ku terka,,Hati,,
Dan kamu, makin membuatku tak bisa memahami hatiku sendiri "sang pujangga"

Hampir beberapa purnama ku lewatkan dalam kilau kekagumanku padamu,
mencoba bercerita pada bulan, dan menuangkannya dalam lautan syair dan rima,
hingga akhirnya mungkin kau mengerti, dan tibba-tiba mengabarkan pada ku bahwa hatimu telah termiliki,
aku berhenti bersyair, namun masih saja bercerita pada bulan tentangmu,,

Namun tiba-tiba hari itu,,
Kamu memintaku untuk bertemu di alam bernamaa mimpi,
Mengundangku duduk bersama menatap bulan,,
Ahhhhh,,, seperti apakah sebenarnya kamu pujangga biru,,,

Rabu, 19 Oktober 2011

Kapankah Lagi Engkau Meminangku *Desperate banget ya dibacanya,, fufufu #part 2

Selepas Isya malam itu, Anil langsung menghubungi kedua orangtuanya dan menceritakan kembali apa yang disampaikan Raudah kepadanya. Ibunya sebenarnya tak terlalu kaget dengan berita itu, karena bukan kali ini ada yang berniat meminang putri mereka, yang ibunya kaget kan adalah orang yang kali ini berniat meminangnya, orang yang dulu sering di sebut-sebut putrinya saat remaja.
"Gimana ya bu?" tanya Anil
"Ibu terserah kamu saja nak, jika kamu memang yakin, jalani saja," Jawab ibunya,
"Abah gimana?" Anil ingin meyakinkan diri dengan menanyakan ayahnya
"Abah sih juga terserah kamu, abah tahu betul siapa Firdaus itu, siapa orangtuanya, semuanya bagus, tapi ayah tetap membiarkanmu memutuskannya" Jawab ayah menenangkan.
Anil Diam,, "Ada baiknya kamu istikharah saja nak," nasehat ibu,
Sepertinya memang itu yang sangat di perlukan Anil saat itu, "Baik bu, memang lebih baik kalau Anil istikharah dulu saja,"
"Allah pasti membukakan jalan-Nya untukmu,"
"Terimakasih bu, Anil tutup dulu ya telponnya, mau makan dulu, hehehe"
"Iya,, assalamualaikum," "Wa'alaikum salam bu",,
Anil sekarang tahu apa yang harus di lakukannya dalam usahanya mencari jawaban pertanyaan-pertanyaannya itu. ***

Aku mencintai siang,
Karena ia akan mengirimkan seribu pijar cinta untuk semangat hidup ku,,
Aku merindui malam,
Karena ia akan mendekapku erat, dan membawakanku sejuta kicauan warna dalam lelapku,,
Tapi aku akan hanyut di sepertiganya,,
Karena disanalah aku akan bersenda gurau, menangis, dan mengadu pada-Nya,, 
Di sepertiga itu, cinta hakiki ku labuhkan,,,

Di sepertiga malam itulah, seperti yang telah jadi kebiasaannya, Anil menumpahkan segala gundahnya, ia lontarkan tanya itu pada hatinya, dan kemudian istkiharah untuk mencari jawabnya. 


Dalam kesempurnaan malam yang khusuk,
Di keheningan tahajud yang syahdu,
Disana, ya disana, suara itu muncul menggema,
Menjawab ragu dalam setiapa tanya,
Merentangkan pasti dalam setiap takut,
Dia menghampiri hati yang sunyi dan bernyanyi,
Nyanyian akan masa depan yang di impikan,

Setelah hening yang cukup lama dalam diamnya, Anil membuat keputusan pasti. ***

Telpon itu diangkat pada dering pertama,
"Halo, ya Nil" Sahut Raudah langsung saat menerima telpon Anil
"Assalamualaikum" Jawab nya
"Wa'alaikum salam, hehehe"
"Cepet banget ngangkat telponya dah?"
"Kan pas hp nya di tangan"
"Alah, sejak kapan hp mu itu jauh dari tangan", Anil sengaja menggodanya
"Ga pernah,, hahaha, apa nih ? udah punya keputusan ya ?" tebah Raudah langsung
"Insyallah", kata Anil malu-malu
"Dan ?"
"Bismillah, iya"
Diam sesaat, kemudian terdengar lah langsung ejekan Raudah pada Anil
"Cieeee,, akhirnya bersatu juga dia dengan cinta pertamanya, ciee, cieeee" Ledek Raudah
"Hehehe,, iya donk." Anil ga mau kalah kalau harus di ledek Raudah
"Ehem, ehem,,"
"Udah ah, ada kuliah nih, ngtar aku terlambat lagi kayak kemaren," Anil akhirnya mengalah, dia tahu bakalan ga ada habisnya kalu ledek-ledekan sama Raudah. raudah tertawa mendengarnya.
"Iya deh, tar aku sampein ke ka Samsul, tapi kayknya sekarang beliau agak sibuk juga"
"Sibuk apa?"
"Kak Yuni tinggal nunggu hari mau melahirkan"
"Ooooo,"
"Ya, terserah beliau lah,"
"Oke deh,"
"Udah ya, assalamualaikum"
"Kum salam"
Anil hanya berharap bahwa keputusannya adalah memang benar jawaban atas segala pertanyaannya. Keyakinan yang di dapatnya dalam sujud panjangnya tadi malam. Keyakinan untuk menerima tawaran ta'aruf itu.***


To Be Continued

Diam,,tak menjawab segalanya !!!

Sulit Mengatakan,
Sulit Melakukan,
Sesulit Mengharapkan akan terjadinya keajaiban....

Kesimpulan sudah ku dapatkan,,,
Tak ada lagi keraguan,,
Ku mengerti seluruhnya apa yang kau inginkan,,

Meski hanya diam yang jadi jawaban,,,
Kejujuranku tetap tak diperhatikan,,,
Hanya dapat membisu dalam kesendirian...

                                                                                                ELMY,, menuntut kepastian....

Kapankah Lagi Engkau Meminangku *Desperate banget ya dibacanya,, fufufu #part 1

Firdaus ku,,
Mengagumimu dalam kedalaman mataku, sejak bertahun lalu,,
Mengagumimu dalam keluguan masa remajaku, aku malu,,

Taman ku,,,
Betapa rupa mu selalu melumpuhkan pandanganku, sejak bertahun lalu,,
Dan betapa akhlakmu selalu berhasil membuatku rindu, aku malu,,

03.45 pm
Anil baru saja merebahkan tubuhnya di tempat tidur seadanya ala anak kos itu setelah seharian berada di kampus ketika handphone putihnya itu bergetar akibat dari tanda 'silent; yang di pasangnya jika sedang mengikuti kuliah, tanda sms masuk. Matanya hampir terpejam, tapi di ambilnya juga handphone itu, lebih jelasnya sih merogohkan isi tas dulu baru berhasil menemukan handphonenya.
"1 Message Received", Anil membukanya, dari Raudah sepupu anil di kampung halamannya

Nil, ada yang mau ta'aruf sama kamu,

isi pesan pendek itu. Anil membutuhkan waktu 3 kali kerjapan mata untuk memahaminya, tersenyum lucu, dan membalasnya, sepupunya yang satu ini memang sering jahil.

Siapa ?, kalo misalnya penguasaha kaya, oke deh.

Balas Anil juga bercanda. Beberapa detik kemudian sms balasan masuk lagi,

Wah, sayangnya dia bukan pengusaha Nil, cuma seorang ustadz madrasah,

Anil masih saja menanggapi dengan gurauan, Ah, takut ah kalo sama ustadz, tar aq diceramahin tiap hari, hehe

sms balasan, Beneran nih, ga nyesel ? hehehe

Anil mulai berpikir kalo Raudah memang serius, Serius ya dah ? Balas Anil lagi,
 
Siapa sih namanya, Anil mulai penasaran, cukup lama kali ini balasan Raudah datang, Anil tahu Raudah pasti menikmati saat mengerjai dia seperti itu,, ahh, Anil mulai terasa sangat tertipu lagi,
drrrrrrtttt,, sms balasan, Anil langsung membukanya,

Namanya sih kalo ga salah Haji Muhammad Yusuf Firdaus, hohoho

DEG,,,,, Anil berulang kali membaca nama yang tertera disana. Segera di balasnya sms,

Boong nih, jangan main-main deh dah,,

Kalo ga percaya tanya sama mamaku deh,, weee, pasti mukanya merah tu,, heee

dan pesan singkat terakhir itu tak mampu lagi di balas Anil, pikirannya terlalu sibuk dan agak bingung menanggapi berita yang baru saja di dapatnya. Lelah yang tadi sangat terasa seperti tak pernah ada. Ahhhh,,, Firdaus. ***

Selesai melaksankan shalat magrib dan segala sunat-sunatnya, Anil masih saja duduk diam di atas sajadahnya dengan mukena yang juga masih terpasang, pikirannya telah terbang, ke beberapa tahun lalu. ***

Anil masih berseragam putih biru di salah satu Madrasah Tsanawiyah kelolaan ayahnya yang seorang tokoh agama dikotanya. Anil Aqsa namanya, memang terlahir dalam lingkungan religious yang sangat kuat, kehidupan sehari-harinya dipertemukan dengan pesantren atau teman-teman ayahnya yang juga sama-sama tokoh agama terkemuka. Anil anak tunggal, tak tak pernah sedikitpun merasakan kekurangan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Ia tahu mereka memanjakannya meskipun mereka tak terlalu memperlihatkannya. Anil mewarisi kepintaran ayah dan ibunya, karena itulah sejak Madrasah Ibtidaiyah hingga pendidikan Aliyah Anil selalu menjadi juara kelas.

Meski dibesarkan dan dididik dalam lingkungan agamis pesantren, Anil tak membatasi pergaulannya. Anil tetap berteman dengan wanita atau laki-laki, pergi jalan-jalan beramai-ramai dengan mereka, atau acara kegiatan pertemanan lainnya. Ayahnya tak juga terlalu melarangnya, asalkan teman-teman Anil masih dalam tahap anak baik-baik, meskipun begitu ayahnya juga memberi  batasan padanya, Anil tidak pernah diijinkan keluar malam hari kecuali jika ada keperluan sekolah, dan syukurnya Anil tak juga mempermaslahkannya. Dia cukup nyaman berada dirumah saja pada malam hari biasa ataupun malam minggu, tak ada yang istimewa baginya, dan rumahlah yang dianggapnya tempat istimewa.

Setiap hari Anil juga melihat bagaimana puluhan santri ayahnya pulang pergi kerumahnya untuk mempelajari kitab-kitab besar yang kemudian di ketahui Anil namanya setelah dia juga menjadi santriwati di pesantren itu.dan disanalah, salah satu dari para santri itu, yang setiap hari datang kerumahnya, yang memanggilnya ayahnya juga dengan sebutan "abah". Salah satu santri pintar, kesayangan ayahnya, sederhana, berakhlak sopan, dan ehem,, rupawan. Muhammad Yusuf Firdaus namanya (waktu itu masih belum Haji), kepada dialah Anil lugu menyimpan kerinduan. Kak Daus biasa Anil memanggil karena tautan umur mereka cukup banyak, sekitar 7 tahun.

Anil remaja tentu saja dengan semangatnya menceritakan Daus kepada teman-temannya termasuk juga Raudah sepupunya itu. Bahkan saat itu Anil nekat mencari tahu nomor handphonenya dan alamat rumahnya.
Firdaus juga seorang anak tunggal, karenia itulah dia menganggap Anil seperti adikknya, mereka salaing bercanda tanpa Daus tahu kalau Anil tidak menganggapnya sekedar seorang kaka.

Dengan nomor handphone Daus di tangannya tanpa malu Anil suka menghubungi, sering sekali, terlalu sering, tanpa dia memberitahukan siapa dia. Anil hanya mengaku dia salah nomor. Mulanya Daus masih bersikap biasa, namun kemudian dia berubah, menghindari Anil sebenarnya dan juga menghindari telpon Anil yang tidak sebenarnya. Anil jadi yakin kalau Daus tahu bahwa Anil lah orangnya, cuma itu sebab yang bisa Anil pikirkan saat itu.

Anil patah hati, patah hati seorang remaja 14 tahun. Dan ia bertambah sedih ketika tahu bahwa cinta pertamanya itu akan pergi jauh ke kota lain demi menuntut ilmu. Anil benar-benar kehilangan sosok Firdaus, bahkan setelah bertahun-tahun ternyata rasa kagum itu masih saja ada. Sesekali Anil masih bisa melihatnya ketika Idul Fitri atau Idul Adha ketika Firdaus datang kerumahnya untuk silaturrahmi pada ayahnya. Anil yang semakin dewasa tak lagi seperti dulu menggebu-gebu untuk bertemu. Setelah tahun-tahun itu, Anil malah memilih bersembunyi di kamarnya ketika Firdaus datang. Dan terkadang mengintip di balik pintu kamarnya.

Selepas lulus dari Madrasah Aliyah, Anil memutuskan untuk menyambung pendidikannya di luar kota berpisah dari ayah dan ibunya. Anehnya, meskipun Anil pernah juga terlibat 'pacaran monyet' dengan cowo lain, sosok kakak yang dikaguminya semenjak lama itu tak pernah bisa hilang dalam pikirannya. Bahkan selembar foto kakak itu yang dulu sempat diambilnya diam-diam di pajangnya juga di kamar kos nya itu.

Dan hari ini tiba-tiba kabar itu datang,stelah sekian lama sosok itu hilang, timbul dan tenggelam dalam ingatannya, apakah sekarang ia masih menyimpan cinta sebesar dulu lagi, masihkah ia berharap sebesar dulu lagi, ahhhh... lamunan Anil buyar ketika di dengarnya Adzan isya berkumandang, dan tak ada jawaban. ***

Hingga keesokan harinya Anil tak juga memberi jawaban pada Raudah. Raudah kembali menghubunginya, namun kali ini menelponnya,

"Kok ga dibals lagi sih Nil?" cecar Raudah
"Shok" sahutku
"Alahhhhh,, sok tapi seneng,, hahaha"
"Hehehehe,"
"Setuju kan?"
"Apanya?"
"Ta'aruf",,
 Anil diam berpikir,,
"Aku bilang ibu dan ayah dulu ya?"
"Jangan lama-lama, ntar menyesal lo"
"Iya,, eh memangnya kak Daus bilang mau ta'arufnya sama kamu ya?" Pertanyaan ini juga baru terpikir di kepala Anil, aneh memang kenapa bisa Raudah.
"Dari suaminya kak Yuni, Ka Samsul, kan temenan sama Kak Daus, Jadi Kak Dausnya nanyain kamu lewat Ka Samsul yang tahu kita ada hubungan keluarga"
"Ooooo" sudah jelas bagi Anil. "Udah ya vulsa mahal,, hehe, kalo sudah bilang kasih kabar aku", "Alahhhh,, kamu ini, iya deh, Insyallah, Assalamualaikum", dan setelah balasan salam diseberang sana, telpon dimatikan.
Anil masih membisu, ragu, yakinkah dia, yakinkah hatinya, setelah sekian lama, dan apa alasannya. Begitu banyak tanya, yang tak di temukan Anil jawabnya.
Anil memutuskan memang harus bicara dengan kedua orang tuanya tentang masalah ini. Sehabis kuliah nanti akan di hubunginya mereka, meminta nasehat dan pendapat. Anil melirik jam tangannya, 08.30, astaga, dia ada kelas jam itu.

To Be Countinue

Selasa, 18 Oktober 2011

Setiap tanya akan ada jawabnya,,!!

Pujangga biru,,
Janganlah pernah engkau sangsi,
Dan setiap tanya akan ada jawabnya,
Meski tak sedikitpun aku yakini untuk siapa tanya itu menjelma,,

Pujangga jingga,,
Apakah dua kata itu untukmu memaknai cinta, Jujur dan dusta ??
Tapi aku memiliki makna lainnya,
Cinta yang menjelma dalam hening,
Tumbuh dalam kebisuan,
Berkembang dalam diam,
Dan merekah dalam kesendirian,

Cinta yang ku jaga kemurniannya dalam senyap,
Yang tak kupertemukan dengan muaranya,
Yang ku benihkan dari kekaguman,
Apa namanya cinta yang ku punya ini wahai pujangga ?????