Rabu, 19 Oktober 2011

Kapankah Lagi Engkau Meminangku *Desperate banget ya dibacanya,, fufufu #part 2

Selepas Isya malam itu, Anil langsung menghubungi kedua orangtuanya dan menceritakan kembali apa yang disampaikan Raudah kepadanya. Ibunya sebenarnya tak terlalu kaget dengan berita itu, karena bukan kali ini ada yang berniat meminang putri mereka, yang ibunya kaget kan adalah orang yang kali ini berniat meminangnya, orang yang dulu sering di sebut-sebut putrinya saat remaja.
"Gimana ya bu?" tanya Anil
"Ibu terserah kamu saja nak, jika kamu memang yakin, jalani saja," Jawab ibunya,
"Abah gimana?" Anil ingin meyakinkan diri dengan menanyakan ayahnya
"Abah sih juga terserah kamu, abah tahu betul siapa Firdaus itu, siapa orangtuanya, semuanya bagus, tapi ayah tetap membiarkanmu memutuskannya" Jawab ayah menenangkan.
Anil Diam,, "Ada baiknya kamu istikharah saja nak," nasehat ibu,
Sepertinya memang itu yang sangat di perlukan Anil saat itu, "Baik bu, memang lebih baik kalau Anil istikharah dulu saja,"
"Allah pasti membukakan jalan-Nya untukmu,"
"Terimakasih bu, Anil tutup dulu ya telponnya, mau makan dulu, hehehe"
"Iya,, assalamualaikum," "Wa'alaikum salam bu",,
Anil sekarang tahu apa yang harus di lakukannya dalam usahanya mencari jawaban pertanyaan-pertanyaannya itu. ***

Aku mencintai siang,
Karena ia akan mengirimkan seribu pijar cinta untuk semangat hidup ku,,
Aku merindui malam,
Karena ia akan mendekapku erat, dan membawakanku sejuta kicauan warna dalam lelapku,,
Tapi aku akan hanyut di sepertiganya,,
Karena disanalah aku akan bersenda gurau, menangis, dan mengadu pada-Nya,, 
Di sepertiga itu, cinta hakiki ku labuhkan,,,

Di sepertiga malam itulah, seperti yang telah jadi kebiasaannya, Anil menumpahkan segala gundahnya, ia lontarkan tanya itu pada hatinya, dan kemudian istkiharah untuk mencari jawabnya. 


Dalam kesempurnaan malam yang khusuk,
Di keheningan tahajud yang syahdu,
Disana, ya disana, suara itu muncul menggema,
Menjawab ragu dalam setiapa tanya,
Merentangkan pasti dalam setiap takut,
Dia menghampiri hati yang sunyi dan bernyanyi,
Nyanyian akan masa depan yang di impikan,

Setelah hening yang cukup lama dalam diamnya, Anil membuat keputusan pasti. ***

Telpon itu diangkat pada dering pertama,
"Halo, ya Nil" Sahut Raudah langsung saat menerima telpon Anil
"Assalamualaikum" Jawab nya
"Wa'alaikum salam, hehehe"
"Cepet banget ngangkat telponya dah?"
"Kan pas hp nya di tangan"
"Alah, sejak kapan hp mu itu jauh dari tangan", Anil sengaja menggodanya
"Ga pernah,, hahaha, apa nih ? udah punya keputusan ya ?" tebah Raudah langsung
"Insyallah", kata Anil malu-malu
"Dan ?"
"Bismillah, iya"
Diam sesaat, kemudian terdengar lah langsung ejekan Raudah pada Anil
"Cieeee,, akhirnya bersatu juga dia dengan cinta pertamanya, ciee, cieeee" Ledek Raudah
"Hehehe,, iya donk." Anil ga mau kalah kalau harus di ledek Raudah
"Ehem, ehem,,"
"Udah ah, ada kuliah nih, ngtar aku terlambat lagi kayak kemaren," Anil akhirnya mengalah, dia tahu bakalan ga ada habisnya kalu ledek-ledekan sama Raudah. raudah tertawa mendengarnya.
"Iya deh, tar aku sampein ke ka Samsul, tapi kayknya sekarang beliau agak sibuk juga"
"Sibuk apa?"
"Kak Yuni tinggal nunggu hari mau melahirkan"
"Ooooo,"
"Ya, terserah beliau lah,"
"Oke deh,"
"Udah ya, assalamualaikum"
"Kum salam"
Anil hanya berharap bahwa keputusannya adalah memang benar jawaban atas segala pertanyaannya. Keyakinan yang di dapatnya dalam sujud panjangnya tadi malam. Keyakinan untuk menerima tawaran ta'aruf itu.***


To Be Continued

Tidak ada komentar:

Posting Komentar