Rabu, 19 Oktober 2011

Kapankah Lagi Engkau Meminangku *Desperate banget ya dibacanya,, fufufu #part 1

Firdaus ku,,
Mengagumimu dalam kedalaman mataku, sejak bertahun lalu,,
Mengagumimu dalam keluguan masa remajaku, aku malu,,

Taman ku,,,
Betapa rupa mu selalu melumpuhkan pandanganku, sejak bertahun lalu,,
Dan betapa akhlakmu selalu berhasil membuatku rindu, aku malu,,

03.45 pm
Anil baru saja merebahkan tubuhnya di tempat tidur seadanya ala anak kos itu setelah seharian berada di kampus ketika handphone putihnya itu bergetar akibat dari tanda 'silent; yang di pasangnya jika sedang mengikuti kuliah, tanda sms masuk. Matanya hampir terpejam, tapi di ambilnya juga handphone itu, lebih jelasnya sih merogohkan isi tas dulu baru berhasil menemukan handphonenya.
"1 Message Received", Anil membukanya, dari Raudah sepupu anil di kampung halamannya

Nil, ada yang mau ta'aruf sama kamu,

isi pesan pendek itu. Anil membutuhkan waktu 3 kali kerjapan mata untuk memahaminya, tersenyum lucu, dan membalasnya, sepupunya yang satu ini memang sering jahil.

Siapa ?, kalo misalnya penguasaha kaya, oke deh.

Balas Anil juga bercanda. Beberapa detik kemudian sms balasan masuk lagi,

Wah, sayangnya dia bukan pengusaha Nil, cuma seorang ustadz madrasah,

Anil masih saja menanggapi dengan gurauan, Ah, takut ah kalo sama ustadz, tar aq diceramahin tiap hari, hehe

sms balasan, Beneran nih, ga nyesel ? hehehe

Anil mulai berpikir kalo Raudah memang serius, Serius ya dah ? Balas Anil lagi,
 
Siapa sih namanya, Anil mulai penasaran, cukup lama kali ini balasan Raudah datang, Anil tahu Raudah pasti menikmati saat mengerjai dia seperti itu,, ahh, Anil mulai terasa sangat tertipu lagi,
drrrrrrtttt,, sms balasan, Anil langsung membukanya,

Namanya sih kalo ga salah Haji Muhammad Yusuf Firdaus, hohoho

DEG,,,,, Anil berulang kali membaca nama yang tertera disana. Segera di balasnya sms,

Boong nih, jangan main-main deh dah,,

Kalo ga percaya tanya sama mamaku deh,, weee, pasti mukanya merah tu,, heee

dan pesan singkat terakhir itu tak mampu lagi di balas Anil, pikirannya terlalu sibuk dan agak bingung menanggapi berita yang baru saja di dapatnya. Lelah yang tadi sangat terasa seperti tak pernah ada. Ahhhh,,, Firdaus. ***

Selesai melaksankan shalat magrib dan segala sunat-sunatnya, Anil masih saja duduk diam di atas sajadahnya dengan mukena yang juga masih terpasang, pikirannya telah terbang, ke beberapa tahun lalu. ***

Anil masih berseragam putih biru di salah satu Madrasah Tsanawiyah kelolaan ayahnya yang seorang tokoh agama dikotanya. Anil Aqsa namanya, memang terlahir dalam lingkungan religious yang sangat kuat, kehidupan sehari-harinya dipertemukan dengan pesantren atau teman-teman ayahnya yang juga sama-sama tokoh agama terkemuka. Anil anak tunggal, tak tak pernah sedikitpun merasakan kekurangan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Ia tahu mereka memanjakannya meskipun mereka tak terlalu memperlihatkannya. Anil mewarisi kepintaran ayah dan ibunya, karena itulah sejak Madrasah Ibtidaiyah hingga pendidikan Aliyah Anil selalu menjadi juara kelas.

Meski dibesarkan dan dididik dalam lingkungan agamis pesantren, Anil tak membatasi pergaulannya. Anil tetap berteman dengan wanita atau laki-laki, pergi jalan-jalan beramai-ramai dengan mereka, atau acara kegiatan pertemanan lainnya. Ayahnya tak juga terlalu melarangnya, asalkan teman-teman Anil masih dalam tahap anak baik-baik, meskipun begitu ayahnya juga memberi  batasan padanya, Anil tidak pernah diijinkan keluar malam hari kecuali jika ada keperluan sekolah, dan syukurnya Anil tak juga mempermaslahkannya. Dia cukup nyaman berada dirumah saja pada malam hari biasa ataupun malam minggu, tak ada yang istimewa baginya, dan rumahlah yang dianggapnya tempat istimewa.

Setiap hari Anil juga melihat bagaimana puluhan santri ayahnya pulang pergi kerumahnya untuk mempelajari kitab-kitab besar yang kemudian di ketahui Anil namanya setelah dia juga menjadi santriwati di pesantren itu.dan disanalah, salah satu dari para santri itu, yang setiap hari datang kerumahnya, yang memanggilnya ayahnya juga dengan sebutan "abah". Salah satu santri pintar, kesayangan ayahnya, sederhana, berakhlak sopan, dan ehem,, rupawan. Muhammad Yusuf Firdaus namanya (waktu itu masih belum Haji), kepada dialah Anil lugu menyimpan kerinduan. Kak Daus biasa Anil memanggil karena tautan umur mereka cukup banyak, sekitar 7 tahun.

Anil remaja tentu saja dengan semangatnya menceritakan Daus kepada teman-temannya termasuk juga Raudah sepupunya itu. Bahkan saat itu Anil nekat mencari tahu nomor handphonenya dan alamat rumahnya.
Firdaus juga seorang anak tunggal, karenia itulah dia menganggap Anil seperti adikknya, mereka salaing bercanda tanpa Daus tahu kalau Anil tidak menganggapnya sekedar seorang kaka.

Dengan nomor handphone Daus di tangannya tanpa malu Anil suka menghubungi, sering sekali, terlalu sering, tanpa dia memberitahukan siapa dia. Anil hanya mengaku dia salah nomor. Mulanya Daus masih bersikap biasa, namun kemudian dia berubah, menghindari Anil sebenarnya dan juga menghindari telpon Anil yang tidak sebenarnya. Anil jadi yakin kalau Daus tahu bahwa Anil lah orangnya, cuma itu sebab yang bisa Anil pikirkan saat itu.

Anil patah hati, patah hati seorang remaja 14 tahun. Dan ia bertambah sedih ketika tahu bahwa cinta pertamanya itu akan pergi jauh ke kota lain demi menuntut ilmu. Anil benar-benar kehilangan sosok Firdaus, bahkan setelah bertahun-tahun ternyata rasa kagum itu masih saja ada. Sesekali Anil masih bisa melihatnya ketika Idul Fitri atau Idul Adha ketika Firdaus datang kerumahnya untuk silaturrahmi pada ayahnya. Anil yang semakin dewasa tak lagi seperti dulu menggebu-gebu untuk bertemu. Setelah tahun-tahun itu, Anil malah memilih bersembunyi di kamarnya ketika Firdaus datang. Dan terkadang mengintip di balik pintu kamarnya.

Selepas lulus dari Madrasah Aliyah, Anil memutuskan untuk menyambung pendidikannya di luar kota berpisah dari ayah dan ibunya. Anehnya, meskipun Anil pernah juga terlibat 'pacaran monyet' dengan cowo lain, sosok kakak yang dikaguminya semenjak lama itu tak pernah bisa hilang dalam pikirannya. Bahkan selembar foto kakak itu yang dulu sempat diambilnya diam-diam di pajangnya juga di kamar kos nya itu.

Dan hari ini tiba-tiba kabar itu datang,stelah sekian lama sosok itu hilang, timbul dan tenggelam dalam ingatannya, apakah sekarang ia masih menyimpan cinta sebesar dulu lagi, masihkah ia berharap sebesar dulu lagi, ahhhh... lamunan Anil buyar ketika di dengarnya Adzan isya berkumandang, dan tak ada jawaban. ***

Hingga keesokan harinya Anil tak juga memberi jawaban pada Raudah. Raudah kembali menghubunginya, namun kali ini menelponnya,

"Kok ga dibals lagi sih Nil?" cecar Raudah
"Shok" sahutku
"Alahhhhh,, sok tapi seneng,, hahaha"
"Hehehehe,"
"Setuju kan?"
"Apanya?"
"Ta'aruf",,
 Anil diam berpikir,,
"Aku bilang ibu dan ayah dulu ya?"
"Jangan lama-lama, ntar menyesal lo"
"Iya,, eh memangnya kak Daus bilang mau ta'arufnya sama kamu ya?" Pertanyaan ini juga baru terpikir di kepala Anil, aneh memang kenapa bisa Raudah.
"Dari suaminya kak Yuni, Ka Samsul, kan temenan sama Kak Daus, Jadi Kak Dausnya nanyain kamu lewat Ka Samsul yang tahu kita ada hubungan keluarga"
"Ooooo" sudah jelas bagi Anil. "Udah ya vulsa mahal,, hehe, kalo sudah bilang kasih kabar aku", "Alahhhh,, kamu ini, iya deh, Insyallah, Assalamualaikum", dan setelah balasan salam diseberang sana, telpon dimatikan.
Anil masih membisu, ragu, yakinkah dia, yakinkah hatinya, setelah sekian lama, dan apa alasannya. Begitu banyak tanya, yang tak di temukan Anil jawabnya.
Anil memutuskan memang harus bicara dengan kedua orang tuanya tentang masalah ini. Sehabis kuliah nanti akan di hubunginya mereka, meminta nasehat dan pendapat. Anil melirik jam tangannya, 08.30, astaga, dia ada kelas jam itu.

To Be Countinue

Tidak ada komentar:

Posting Komentar