Diam dan melihat,,
Itulah yang kugunakan sebagai benteng kokoh untuk melindungi sekeping hati,,
Hati dalam diriku yang hampir mati,
Diam dan mendengar,,
Itulah yang kupakai sebagai radar kuat untuk melindungi sekeping hati,,
Hati dalam diriku yang akan di amuk tsunami,,
Aku masih bercerita dalam kesenyapan malam,,
Menyapa bintang, memanggil bulan,
Mengutip awan, merintai angkasa,
Aku bercerita tentang hati yang ada di sana, jauh dari tempatku berada,
Tentang nama yang kini sering ku dengar gemanya,,
Kuceritakan semuanya dalam hening,
Tentang nama yang dengan indahnya mengukir bait & rima menjadi ungkapan penuh makna,,
Dan tentang mereka-mereka yang menglilingi nama itu, bunga-bunga ranum yang indah,
Entah karena dia terlalu baik dan sopan, mereka sangat terlihat akrab,
Lagi-lagi aku bercerita tentang kecemburuan,,
Aku pula mengadu dalam linangan airmata,
Mengapa nama itu yang harus hadir,
Nama atas diri seseorang yang tak akan pernah sanggup untuk di gapai,,
Tingi dan terlalu jauh,,
Wahai Sang Maha Cinta,
Biarkan sekarang ku titipkan sekeping hati ini pada-Mu,,
Sudah hancur segala pertahanan yang ku bangun,,
Biarkan sekarang kau yang menyelamatkannya dengan takdir-Mu, dari sebuah nama berinisial ''sang pujangga''
Tidak ada komentar:
Posting Komentar